﷽
Bukan buat jalan2 sih, tapi buat ujian masuk perguruan tinggi, :)
Ketika heboh di persiapannya, mulai dari nyiapin berkas, pesen transport buat kesana, penginapan, dan lain2...
Gimana enggak, berkasku sendiri aja beberapa ada yang kurang, sampai H- sekian penutupan baru lengkap dan Alhamdulillah masih cukup untuk dikirim ke provinsi sumatra itu, :)
~kemarin pendaftaran itu masi pake hard file (jadi ngirim berkas langsung), dan belom pake softfile, adanya ngirim foto istimaroh tasjil yang habis itu dikirim ke wa ustadzah TU disana...
di lanjut transport berangkat, yang udah fix dipesan dan dibayar, tetiba dapat kabar, penerbangan tanggal yang kami pilih dibatalkan, panik? Jelas panik, sampai rusuh gak jelas.
Waktu itu tetiba ada kabar pembatalan dari pihak maskapai, sedang waktu ujian juga udah deket. Cuma bisa istighfar dan doa selama proses pindah jadwal, pasalnya ketika di telfon layanan maskapai juga sibuk. Mungkin banyak juga yang merasakan apa yang kami rasakan. Hingga hampir tengah malam akhirnya Allah beri kami jalan, telfon kami di terima, segera saja kami minta pindah jadwal.
Hingga akhirnya hari ujian tiba, kami sudah disana sejak dua hari sebelumnya. Ya, Medan taks seperti Jakarta, apalagi Jawa. Panasnya menurutku melebihi Jakarta. Kemacetannya pun hampir menyamai Jakarta. Kami belum menaruh hati pada Medan.
Alhamdulillah, ujian awal kami selesai. Pulangpun dengan hati yang ringan. Hingga esok penentuan, apakah kami akan kembali ke Medan, atau tidak.
Hari terakhir, pengumuman final. Ketika yang lain nonton film, -karena mereka sudah ingin sejak ujian awal selesai- Aku hanya dikasur, menunggu hasil, dengan harap-harap cemas. Siapa yang tak cemas? Aku saat itu sebenarnya sangat bimbang. Belum ikhlas ketika nanti hasilnya adalah lolos, belum ikhlas untuk tinggal di Medan. Tapi, disisi lain sangat berharap, karena bagaimanapun yang terpenting adalah semangatku untuk terus belajar. Maka jika niatnya karenaNya dimanapun seharusnya tak masalah.
Aku tak berani melihat pengumuman, sampai mereka semua bersyukur karena kami dinyatakan lolos. Aku masih diam, bimbang. Hingga pesan-pesan di hpku memenuhi layar. Temanku, kakakku semua mengucapkan Barakallah. Aku ingin menangis, bukan inginku disini. Namun, aku ingat mereka yang menginginkan posisiku. Maka, kuubah dengan paksa, senyumku pun muncul. Alhamdulillah, Terimakasih Ya Allah.
Satu hal lagi, karena salah satu temanku menangis. Mungkin ia tak ingin terlalu jauh dengan keluarga. Kalau tadi aku nangis juga kan ga lucu, hehe... Lebih baik aku menyemangati kawan-kawan lainnya. :))
Bingung ya? Sama, Aku juga. Karena cerita waktu itu terlalu lama jika harus detail. Potongannya ada di wordpress saya. Sekian.
Entah kapan saya akan menulis lagi, fokusnya sedang pecah. hehe....
Salam saya untuk segenap pembaca. 🌷💙
Tidak ada komentar:
Posting Komentar