Hanya berbagi kisah,
Kalian pernah mengalami titik dimana kalian merasa sangat bersalah terhadap diri kalian, bersalah kepada orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, bersalah kepada mereka yang telah menyemangati mu...? entah kalian pernah merasakan atau tidak.
Ini kisah tentang mengikhlaskan, berusaha tanpa kenal lelah, kisah tentang kebersamaan, dan kisah untuk tak menyerah kepada keadaan. Ini cerita dan sekelumit sejarah hidup seseorang untuk terus berbaik sangka pada Sang Khaliq.
Kelas 11 sudah pasti masa-masa sibuk dengan organisasi, masa penuh agenda, masa penuh kebersamaan. Dari kelas 10 yang masih menjadi segelintir anak baru di tengah-tengah orang hebat yang telah mempunyai pengalaman menakjubkan. Kelas 10 yang belum mengenal siapapun, karena memang ia hanya sendiri, menarik kawan, menghindar diri dari mencari lawan. sebelum masa kelas 12 yang penuh kesibukan untuk meraih cita, bukan sekadar cita sebagai lulusan yang baik, namun mendapat perguruan tinggi yang di impikan bahkan hingga memeroleh beasiswa di luar negeri. Di kelas 11 ini, sudah banyak kawan yang ia fahami, sudah dapat menyesuaikan diri... namun memang kegiatan di tahun ini jauh lebih banyak dibanding 2 tahun lainnya.
Tak ada yang salah di tahun ini, bahkan organisasi pun di jalani dengan penuh tanggung jawabnya. Mata pelajaran di kelas pun di ikuti dengan penuh keta'dziman terhadap guru yang mengajar, terlebih jika itu mata pelajaran yang menarik perhatiannya... walau kadang rasa mengantuk itu pati ada.😅
Halaqoh pagi pun ia ikuti dengan penuh semangat, menyiapkan di hari sebelumnya, bahkan mungkin hingga menyiapkan di sekolah untuk setoran kedua di sore hari, karena ia sadar, teman-temannya jauh di atasnya yang menyebabkan ia harus berlari. Namun, semua itu memang telah di atur oleh Nya. Sebesar apapun usaha kita, jika Ia bilang tidak, maka hal itu tak akan pernah terjadi.
Seperti yang di alaminya, hampir-hampir ia tak mengikuti agenda terakhir yang hanya di ikuti kelas 10 dan 11 saja, yaitu agenda susur pantai. Agenda yang selalu di nanti, oleh mereka yang sangat menyukai keindahan alam, mereka yang berusaha mentadabburi ciptaanNya. Semangat saudara seimannya membuat ia berusaha untuk dapat menyelesaikan ujian juz terakhir yang di targetkan di tahun itu, dan Allah mengabulkannya. Syukurnya dalam hati tak lepas hingga kembali, walau disana banyak temannya yang mengeluh dan berkesah karena agenda susur pantai tahun itu tak seperti tahun lalu.
Oke, ujiannya belum berakhir disana,, ia harus menyelesaikan ujian tahfidznya kepada pengampunya kala itu, 10 juz yang wajib ia selesaikan dalam dua hari. Tak mudah memang, namun malamnya ia habiskan untuk membaca suratan cinta Nya. Waktunya di bagi antara belajar di sekolah, melaksanakan tugas organisasinya, mengerjakan pr, dan mengejar capaian tahfidz untuk ujian nantinya. Waktu mengobrol dengan temannya pun berkurang, bahkan hingga mereka jarang berbincang, hanya sapaan dan senyuman yang ada.
Tenggang ujian tahfidz kala itu sudah hampir usai, namun ia belum juga lulus ujian 10 juz nya, berkali ia mencoba, gagal yang di alaminya ia sambut dengan senyuman ketika keluar ruang ujian, karena ia tak ingin melihat saudara seimannya bersedih, tangisnya sudah habis di dalam, sembari mendengarkan beberapa patah semangat untuknya dan kawan-kawannya.
"Bagaimana?" Tanya kawannya antusias. Senyuman yang ia berikan, matanya memang tak bisa berbohong, dan mereka menyadari itu. Bahkan ketika banyak tugas yang menumpuk, temannya menawarkan hasil pekerjaannya untuk ia salin, ia hanya berterimakasih, mencoba mengerjakan terlebih dahulu lalu mencocokan dengan milik temannya itu.
Batas akhir ujian tahfidz pun di perpanjang, sebuah kebahagiaan tesendiri untuknya. Dari batas yang awalnya sebelum wisuda kakak tingkat menjadi beberapa hari sebelumpengambilan rapot. Memang agak susah membagi antara belajar untuk UKK saat itu, apalagi ia tak pernah masuk beberapa hari sebelum UKK dikarenakan sedang mengikuti ujian tahfidz.
Untuk sebagian orang mungkin akan menyerah, karena sudah gagal berkali-kali. Namun, ia tak ingin mengecewakan sekelilingnya,, ia tak ingin menyerah selama kesempatan untuk ujian masih ada untuknya. Ada sesosok yang ia lihat ketika sedang mengulang hafalannya di masjid ketika hari ujian, sosok yang sangat ia kenali, yang ia hormati, ia mengamatinya dengan seksama... 'apa yang beliau lakukan di masjid? Bukankah seharusnya beliau istirahat lagi, sebelum nanti harus menyimak kembali?' Ya.. ia melihat ustadzah tahfidznya, sedang apa? Di lihatnya beliau mengusap wajahnya dengan cadar yang beliau gunakan. 'Menangis?' ... hati kecilnya bersedih ' maaf us, muridmu belum bisa membahagiakan mu' antara kacau dan semangat untuk menyelesaikan ujian hari itu, ia kembali pada bacaannya.
Hingga UKK ia belum dapat menyelesaikan ujiannya, terpaksa ujian tahfidznya di tunda hingga selepas UKK. Selama itu ia belajar dengan temannya, menyalin apa yang ia tak ikuti di kelas, bahkan dirinya rindu suasana belajar di kelas.
Esok adalah acara tahunan yang diberikan adek tingkat kepada kakak tingkatnya, lailatul wada' tepatnya. Acara yang telah di rancang oleh angkatannya 6 bulan sebelum acara itu di buat, setiap anak memang mendapat jatah tugas, dan mendapat bagian dekorasi ruang, dan ia hanya dapat memberikan beberapa usulan dekorasi kepada teman setim nya, selebihnya temannya tak ingin fokus murajaahnya terbagi. Esok acara itu berlangsung, dan ia tak menghadirinya. Bukan karena tak ingin, bahkan itu adalah acara yang sangat ia nantikan, untuk dapat bercengkrama dengan kakak-kakak yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi kelak. Namun, ia memilih berdiam di masjid bersama beberapa kawannya, fokus pada bacaanya. Esok setelah acara itu adalah akhirussanah, wisuda kakak tingkatnya.. dan sekali lagi ia tak bisa menghadirinya, bukan karena tak ingin. Namun, gurunya yang menyarankan. Akhirnya ia hanya duduk kembali membaca suratan cintaNya, di kesunyian pondok, di temani angin dan balon bekas acara semalam. Ia ingin hadir, menyaksikan sosok-sosok luar biasa yang menginspirasinya selama di sana di wisuda, dan entah kapan akan berjumpa kembali.
Ketika acara itu selesai, hanya beberapa yang ia jumpai, menyampaikan semangat dan doanya. Senyum yang timbul dan ucapan terima kasih kepada mereka yang ia jumpai. Esok ia kembali berjuang bersama kawan nya.
Tak terasa bulan suci tiba, dan ia belum juga menuntaskan ujiannya, setelah kesempatan di hari setelah wisuda yang lalu ia gagal, esok adalah kesempatan terakhirnya... bertepatan dengan beberapa hari pengambilan rapot dan acara i'tikaf. Malam ramadhan itu mereka berdoa, memohon bahkan tak ada kantuk yang menyerang dari pagi hingga menuju pagi, ia tak tertidur, khusyuk dengan bacaannya dan mendalami artinya... istirahatnya hanya menatap langit ramadhan yang penuh ketenangan, bintang bertabur di langit sana. Matanya menerawang, hatinya berharap 'Allah aku menerima segala keputusan Mu, Kau jauh mengerti apa yang baik untuk hamba Mu, karena apa yang hamba anggap baik belum tentu baik untuk hamba, esok... aku serahkan segalanya Ya Rabb, aku ikhlas untuk semua yang Kau tetapkan.'
Esok, dikala yang lain tengah asyik membaca suratan cintaNya selepas shubuh, ia dan beberapa anak telah siap untuk ujian. Kali ini spesial, karena orang tua pun diundang untuk menyemangati, dan yang mengecek adalah pemimpin ma'had langsung, walau setelah itu di gantikan dengan dua orang muhafidzah. Tak terasa gilirannya maju, ia bersiap, orang tuanya hadir tepat saat ia memasuki ruangan, namun dirinya belum melihat mereka. Di dalam ruangan, ia berusaha untuk memberikan yang terbaik, entah bagaimana penilainya. Selepas selesai, kedua gurunya tersenyum ' baarakallah ya ukh, sudah memberi yang terbaik, apapun hasilnya serahkan kepada Allah ya.'. Ia hanya membalas dengan senyuman, terpaksa, karena ia tahu... beliau hanya menyembunyikan sesuatu rasa sedih yang di rasakan di depan muridnya. Ia pun menyalami kedua tangan gurunya dan bergegas pergi, di luar orangtuanya menunggunya... ia mehambur ke keduanya, menitikkan air mata.
Tak terasa pengumuman kelulusan ujian sudah tersebar, dan memang tak ada yang lulus di ujian tempo hari. Yang kecewa tak hanya ia, namun kawan terdekatnya juga. 'ukh, anti harusnya masih disini... ma'had ini jahat ke anti!' Kata seseorang kepadanya. 'Gak ukh, ane emang gak kuat... ma'had ini gak jahat, afwan ya... ' jawabnya dengan senyuman. Ada seseorang yang selalu murung wajahnya, tak ingin mengingat bahwa kawannya akan pergi tahun depan, tak membersamainya di tahun terakhir, bahkan ia baru akrab dengannya setahun ini. Ia tersenyum menghampiri 'jangan sedih terus lah ukh, ana sedih juga' ia katakan itu jauh hari sebelum kawannya mengikuti sebuah agenda tahfidz di luar pondok. ' ukh, anti masih disini kan tahun depan? Nanti ana sama siapa ? ' tanya seseorang, namun bukan kawan setingkatnya, namun adik kelasnya. 'Ana gak bisa janji ukh, antikan udah punya banyak teman, akrab kan udahan?' jawabnya sambil tersenyum.
Ketika di ruang guru untuk mengumpulkan tugas pun ia menangis... Seseorang membisikinya ' ukh, apapun pokoknya anti harus nemenin ustadzah lho ya... jangan pergi'. Bukannya menjawab ia hanya menangis. Teriang pula pesan guru tahfidznya selepas ujian tahfidz yang entah keberapa 'ustadzah minta kalian gak usah pindah, kalaupun pindah jangan menyerah ya, karena rezeki orang berbeda-beda, siapa tahu di sana kalian lebih baik,, yang penting jangan pernah lupa murajaah, dimana pun kalian pergi nanti. Jazakumullah sudah mau berusaha semaksimal mungkin, Allah tahu yang terbaik.'
Esok hari pembagian rapot, namun malam ini angkatannya membuat pesta perpisahan kecil untuk kawan mereka yang telah berjuang untuk tetap bersama, memutar memori dari kelas 10, ucapan maaf dan terimakasih, serta makan dan minum yang sangat sederhana, yang mengharukan ialah acara salam-salaman terakhir di tahun itu, penuh tangisan, namun ia menyembunyikanya,,, tak bisa ia melihat mereka menangis. ' Ukh anti kenapa gak nangis sih?'. ' Karena nanti kalo ana nangis, anti tambah nangis lagi.. 😢' jawabnya di dalam pelukan. Seseorang memegang tangannya dengan erat, air matanya meleleh hingga jatuh ke tangan. 'Ukh afwan ya, tahun depan gak bisa bareng lagi, tahun epan gak bisa murajaah bareng lagi... anti tetep semangat lho ya.. ' tangisnya bertambah. ' Anti itu lho ukh, harusnya anti gak pindah, anti bisa di sini..' kata temannya sambil sesegukkan...
Malam itu malam terakhir ia berada di ma'had yang penuh kasih sayang itu, ma'had yang penuh kerinduan. Hatinya belajar mengikhlaskan, dirinya belajar mengintrospeksi diri, jiwanya sibuk menenangkan hati.
Ini sepenggal kisahnya ketika meninggalkan kawan seperjuangannya.
ketika ia mulai bisa menerima, perpisahan menghalangi mereka bersama. Ketika harapan tertuju pada Nya, tak ada rasa sia-sia dari dalam dirinya.
Ketika ia mulai belajar berkorban dan berjuang, iah arus mengikhlaskan apa yang ia perjuangkan untuk ia korbankan.
Ia belajar untuk mengikhlaskan apa yang telah di tuliskanNya.
Selamat mengambil hikmah dari sepenggal kisah tersisa. Salam ku untuk mereka yang ia rindu. 😅
#Pmargaritiffera
@amalia_akn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar